INFO STIKES
16-01-2021
  • 9 bulan yang lalu / MARI BERSATU MELAWAN COVID-19
  • 10 bulan yang lalu / …WELCOME…  WEB RESMI STIKES MUHAMMADIYAH LHOKSEUMAWE
2
Jan 2021
0
Pelibatan Mahasiswa dalam Penyelamatan Korban Bencana

ASWADI, Anggota FAMe Chapter Pidie Jaya, Pengurus Ikatan Pemuda Aceh Utara Bidang Kebencanaan, dan alumnus Magister Ilmu Kebencanaan Unsyiah, melaporkan dari Lhokseumawe

TELAH terjadi  gempa bumi dengan kekuatan 7,3 skala Richter (SR) pada hari Minggu,  29 November  2020 pukul   08.45  WIB  yang mengguncang Kota Lhokseumawe dan sekitarnya.

Bencana alam tersebut menyebabkan puluhan mahasiswa dan  mahasiswi  STIKes  Muhammadiyah Lhokseumawe  menjadi korban. Kebanyakan dari korban adalah mahasiswi,  ada yang patah kaki, ada yang patah tangan, juga ada yang patah leher atau patah tulang belakang. Ada juga mahasiswi yang sedang hamil  mengalami  perdarahan dan trauma, dan satu orang dinyatakan meninggal akibat tertimpa bangunan yang runtuh.

Di samping korban meninggal dan patah tulang, juga masih banyak mahasiswa dan mahasiswi yang luka terkena serpihan kaca dari jendela ruangan. Ada juga yang terjatuh pada saat menyelamatkan diri dari reruntuhan bangunan.

Kejadian bencana gempa bumi dalam peristiwa di atas merupakan skenario awal simulasi gempa bumi yang berpusat di daratan dengan kekuatan di atas 6,5 SR dengan kedalaman  sampai  dengan  50  km dari permukaan bumi.

Simulasi tersebut melibatkan mahasiswa STIKes Muhammadiyah semester 3 lanjutan dan pimpinan beserta staf  laboratorium di  kampus  setempat. Simulasi tersebut  mengundang   perhatian masyarakat yang melintas di depan Kampus STIKes Muhammadiyah Kota Lhokseumawe. Ada juga masyarakat di sekitar kampus hendak membantu mahasiswa yang sudah terbaring pingsan di bawah runtuhan bangunan, tetapi setelah dijelaskan bahwa ini hanya bagian dari skenario simulasi gempa bumi yang berpusat di daratan, maka masyarakat tersebut tersipu malu dan meminta maaf kepada petugas penjaga.

Tujuan dari simulasi ini adalah untuk dapat membedakan sistem penanggulangan gawat darurat   terpadu sehari-hari  dengan  sistem  penanggulangan gawat  darurat terpadu bencana. Dalam simulasi ini juga mahasiswa dapat melaksanakan penatalaksanaan korban bencana massal di lapangan, perawatan di lapangan, penerapan penatalaksanaan korban bencana massal rumah sakit   sampai dengan pelayanan kesehatan  di pengungsian.

Dalam simulasi ini juga diarahkan cara berkomunikasi atau cara memberi informasi dari wilayah yang terdampak bencana ke tingkat kabupaten/kota dan kemudian diteruskan kepada provinsi. Terakhir dari simulasi ini diharapkan mahasiswa dapat melaksanakan perawatan psikososial dan   spiritual bagi korban bencana, perawatan psikososial dan spiritual bagi petugas dan ‘caregiver’  juga diharapkan dapat membangun kerja sama tim dalam pelaksanaan trauma healing.

Kegiatan simulasi gempa bumi sebaiknya menjadi agenda rutin bagi setiap stakeholder maupun   perguruan tinggi yang ada di Aceh. Sebagaimana kita ketahui bahwa Indonesia pada umumnya   dan Aceh   khususnya, merupakan suatu wilayah yang rawan terjadi   becana. Bencana merupakan peristiwa atau serangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan oleh faktor alam dan faktor nonalam maupun faktor manusia. Sehingga, mengakibatkan timbulnya korban jiwa, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.

Bencana yang diakibatkan oleh faktor alam, antara lain, berupa gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah longsor. Sedangkan bencana yang diakibatkan oleh faktor nonalam, antara lain, berupa gagal teknologi, gagal modernisasi, epidemi, dan wabah penyakit. Kebencanaan merupakan pembahasan yang sangat komprehensif dan multidimensi. Menyikapi kebencanaan yang frekuensinya terus meningkat setiap tahun, pemikiran terhadap penanggulangan bencana harus dipahami dan diimplementasikan oleh semua pihak.  Dengan adanya   kejadian   bencana   yang   kerap   terjadi,   pemerintah   melakukan   upaya   untuk pengurangan risiko bencana (PRB). PRB harus disosialisasikan kepada masyarakat Indonesia umumnya dan masyarakat Aceh khususnya. Implementasi PRB diperlukan dalam mengatasi korban  jiwa  akibat dari  dampak   bencana   gempa   bumi  di   rumah   sakit   maupun   fasilitas kesehatan lainnya  sebagai dampak dari gempa bumi itu sendiri. Misal, runtuhnya bangunan, tertimpa lemari  dan sebagainya.

Sebenarnya gempa bumi tidak membunuh, tetapi yang jadi pembunuh  itu adalah reruntuhan bangunan  atau benda-benda besar yang ada di sekitar kita, seperti tertimpa tiang listrik, bahkan serpihan dari jendela kaca. Oleh karena itu, pada saat terjadi gempa bumi menjauhlah dari jendela kaca, segera ke luar dari dalam bangunan dan yang paling utama adalah lindungi kepala Anda.  Penyelamatan  dan  pencarian bagian dari skenario  simulasi  ini  yaitu kegiatan  yang meliputi pemberian  pertolongan  dan  bantuan  kepada  penduduk yang  mengalami  bencana. Kegiatan  ini  meliputi mencari,  menyeleksi, dan memilah penduduk yang meninggal, luka berat, luka ringan, serta menyelamatkan penduduk yang masih hidup.

Sebagaimana skenario yang telah diperankan oleh mahasiswa  STIKes Muhammadiyah Lhokseumawe, begitulah kira-kira dampak yang dialami oleh masyarakat terhadap dampak apabila terjadi gempa bumi dengan kekuatan di atas 6,0 SR dan pusat gempa yang dangkal. Oleh karena itu, untuk meminimalisasi korban jiwa dari dampak bencana mari kita perkuat pada mitigasi dan kesiapsiagaan. Baik mitigasi struktural maupun mitigasi nonstruktural. Seperti simulasi ini adalah bagian dari kesiapsiagaan, guna dari simulasi ini adalah untuk mengetahui perannya perawat pada saat tidak ada bencana, pada saat terjadinya bencana atau pada saat darurat dan pada  saat rehabilitasi  dan  rekonstruksi.

Dalam  simulasi ini, mahasiswa telah melakoni perannya dengan sangat baik, salah satunya adalah   sikap perawat yang penuh empati terhadap korban bencana. Begitu juga mahasiswa yang  berperan sebagai korban telah menjalankan perannya dengan baik dan sesuai dengan instruksi awal, dan mahasiswa yang berperan sebagai  komando dalam memberikan informasi atau cara   berkomunikasi dalam situasi bencana sudah sangat baik.

Dalam situasi darurat bencana, perawat tentu saja akan menemukan sangat banyak jenis korban yang tak terduga. Di samping semua itulah perawat harus dapat menyiasatinya, yaitu dengan berpikir kritis. Dalam keperawatan, berpikir kritis adalah proses mental untuk menganalisis atau mengevaluasi informasi. Proses berpikir kritis dalam keperawatan adalah suatu   komponen   penting dalam  mempertanggungjawabkan profesionalisme dan kualitas pelayanan  asuhan  keperawatan.  Dalam  kondisi  normal  atau tidak  dalam kondisi bencana, manusia dapat berpikir dan berencana untuk memberikan reaksi terhadap berbagai kejadian, seperti  memberikan  pertolongan   kepada  korban  bencana dengan  sangat  baik.

Akan  tetapi, ketika   dihadapkan pada situasi yang sebenarnya, umumnya informasi yang   membangun kognitif  untuk rujukan bertindak/bereaksi  dapat buyar dan terabaikan. Oleh karena itu, agar terampil dalam berpikir kritis maka  perawat sesering  mungkin dilatih  atau  dengan cara melakukan simulasi sesering mungkin.

Simulasi pencarian, penyelamatan, triase, pertolongan pertama dan mentransfer korban adalah bagian dari mata kuliah Keperawatan Bencana yang sedang saya asuh di STIKes Muhammadiyah  Lhokseumawe.

Data Kampus

STIKES MUHAMMADIYAH LHOKSEUMAWE

Akreditasi : B

Jl. Darussalam No.47, Hagu Selatan
KEC. Banda Sakti
KOTA. Lhokseumawe
PROV. Aceh
KODE POS 24351