INFO STIKES
20-10-2020
  • 6 bulan yang lalu / MARI BERSATU MELAWAN COVID-19
  • 7 bulan yang lalu / …WELCOME…  WEB RESMI STIKES MUHAMMADIYAH LHOKSEUMAWE
29
Sep 2020
0
Sejarah Kedatangan Pengungsi Rohingya di Aceh, Terusir dan Menjadi Etnis Paling Teraniaya di Dunia

Gedung Balai Latihan Kerja (BLK) di Desa Meunasah Mee, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe kini tampak ramai.

Gedung yang dulunya sepi ini dalam beberapa tahun ini, telah beberapa kali menjadi tempat penampungan bagi para pengungsi Rohingnya.

Warga etnis Rohingya, terusir dari kampungnya di Rakhine (juga dikenal dengan nama Arakan) di Myanmar akibat konflik antar etnis yang terjadi di sana.

Meski telah tinggal puluhan hingga ratusan tahun di Rakhine, orang-orang Rohingya ini tidak pernah diakui sebagai warga negara oleh Pemerintah Myanmar.

Mereka tetap dianggap sebagai pendatang ilegal dari wilayah Bengali (kini India dan Bangladesh).

Konflik dengan Pemerintah Myanmar membuat orang-orang Rohingya ini menjadi sasaran aksi kekerasan dan kekejaman militer Myanmar.

Banyak dari mereka menyeberang ke Bangladesh dan menjadi pengungsi di sana.

Seakan keluar dari mulut harimau lalu masuk ke mulut buaya, warga Rohingya kerap menjadi obyek perdagangan manusia saat berada di pengungsian.

Penderitaan yang dialami oleh para Rohingya ini membuat para pekerja kemanusiaan dan media internasional menyebut mereka sebagai etnis paling teraniaya di dunia, paling tidak untuk saat ini.

Persatuan Bangsa Bangsa (PBB) memperkirakan etnis Rohingya saat ini berjumlah sekitar 1-1,5 juta jiwa yang tersebar di beberapa negara.

Selain di Myanmar, di mana mereka setiap hari menghadapi penganiayaan, sekitar 1 juta warga Rohingnya kini mendiami Kamp pengungsi di Cox’s Bazar, Bangladesh.

tribunnews

KETUA Solidaritas Aceh untuk Rohingya (SAUR) Tgk H Faisal Ali, melihat anak-anak Muslim Rohingnya belajar Alquran di mushalla yang dibangun dengan bantuan masyarakat Aceh, di Cox’s Bazar, Bangladesh, Minggu (4/2/2018). (SERAMBINEWS.COM/Handover)

Ratusan ribu lainnya tersebar di India, Pakistan, Malaysia, Amerika, Australia, Indonesia, dan banyak negara lainnya.

Ratuan hingga ribuan orang setiap bulan pergi dari Cox’s Bazar dengan kapal-kapal kayu, hingga terombang-ambing di lautan lepas.

Nah, sebagian dari mereka ini terdampar, mendamparkan diri, atau diselamatkan oleh para nelayan Aceh.

Terakhir, pada awal September 2020, sebanyak 296 pengungsi Rohingya ini terdampar di Perairan Ujong Blang, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe.

Mereka inilah yang saat ini ditampung di Gedung Balai Latihan Kerja (BLK) di Desa Meunasah Mee, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe

Kedatangan para pengungsi Rohingya ke Aceh, mendapat perhatian dari masyarakat setempat, pemerintah setempat, pemerintah provinsi dan pusat, lembaga PBB (UNHCR), dan lembaga kemanusiaan lainnya.

Banyak cerita mengenai tragedi yang terjadi pada warga Rohingya itu.

Ribuan pengungsi itu tiba ke daratan Aceh dengan perahu-perahu kayu yang beriskan ratusan orang.

Bahkan banyak di antara mereka yang tak sampai ke daratan, meninggal dan dikuburkan di laut lepas.

Berdasarkan cacatan yang berhasil terhimpun dari berbagai sumber, persoalan Migran Rohingya sepertinya tidak kunjung selesai, dari puluhan tahun yang lalu, mereka sudah hidup terlunta-lunta.

Para pengungsi itu nampaknya mencari negara ketiga untuk ditepatin, bahkan beberapa diantara mereka kini banyak yang sukses berada di negara ketiga.

Berikut data pengungsi Rohingya masuk ke Aceh dari tahun ke tahun yang SerambiWIKI.com himpun.

– Januari 2009, sebanyak 193 pengungi Rohingya terdampar di Sabang, Para pengungsi tersebut ditampung di kamp pengungsian TNI AL di sana.

– Februari 2009, sebanyak 198 pengungsi Rohingya terdampar Idi Aceh Timur.

– Februari 2013, sebanyak 127 pengungi Rohingya terdampar di lepas pantai kawasan Cot Trueng, Kecamatan Muara Batu, Aceh Utara.

Mereka dievakuasikan ke Meunasah desa setempat. Dari 127 etnis Rohingya itu 6 diantaranya wanita dan 2 orang anak-anak.

– Mei 2015, sekitar 800 orang pengungsi Rohingya mendarat di pantai Langsa, bagian timur Provinsi Aceh. Pengungsian ini merupakan rombongan kedua yang mendarat di wilayah Indonesia.

– Januari 2018, sebanyak 79 orang etnis Rohingya terdampar di pantai Kuala Raja, Kecamatan Kuala, Bireuen sekitar pukul 14:00. Mereka terdiri dari 44 laki-laki, 27 perempuan, dan 8 anak-anak.

Para pengungsi tersebut dievakuasi sementara ke Gedung Sanggar Kegiatan (SKB) Cot Gapu, Bireuen.

– Juni 2020, sebanyak 99 Migran Rohingya berada di atas kapal KM Nelayan milik nelayan Indonesia di pesisir Pantai Seunuddon, Aceh Utara.

Mereka ditolong oleh nelayan setempat karena kapal yang ditumpanginya telah rusak.

– September 2020, sebanyak 296 Imigran asal Myanmar etnis Rohingya terdampar di Perairan Ujong Blang, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe.

tribunnews
Warga etnis Rohingya di Aceh (SERAMBINEWS.COM/ZAKI MUBARAK)

Kini mereka semua telah ditampung di gedung Balai Latihan Kerja (BLK) di Desa Meunasah Mee, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe.

Sejauh ini, tidak ada yang tahu sampai kapan gelombang manusia perahu terus berlabuh di Aceh.

Sebab konflik yang melanda Etnis Rohingya tersebut belum berakhir.

Sejarah Konflik Etnis Rohingya di Myanmar

Rohingya adalah nama kelompok etnis yang tinggal di negara bagian Arakan/ Rakhine sejak abad ke 7 Masehi (778 M).

Istilah “Rohingya” disematkan oleh peneliti Inggris Francis Hamilton pada abad 18 kepada penduduk muslim yang tinggal di Arakan.

Saat ini Arakan adalah negara bagian dari Union of Myanmar yang terletak di sisi arah laut Myanmar berbatasan dengan Bangladesh.

Terdapat versi lain yang menyebutkan bahwa etnis Rohingya merupakan orang Bangladesh yang mencari kehidupan lebih baik di Myanmar dengan mencari simpati pada negara-negara Barat melalui pengakuan sebagai orang asli Myanmar.

Jika dilihat secara fisik penampilan orang-orang Rohingya memiliki kemiripan dengan orang Bangladesh.

Mereka mengunakan bahasa yang mirip yaitu bahasa Chitagonian yang digunakan orang Bagladesh bagian selatan.

Secara geografi, wilayah Arakan (Raknine) berbatasan dengan Bangladesh.

Kesamaan dan kedekatan hubungan etnis Rohingya dengan Bangladesh adalah penyebab pemerintahan Myanmar tidak mengakui etnis Rohingya, bahkan pemerintah Myanmar mengunakan kata “Bengali” dalam menyebut etnis Rohingya.

Kemunculan permukiman muslim di Arakan sebagai cikal bakal kelompok Rohingya terlacak sejak zaman kerajaan Mrauk U khususnya pada zaman raja Narameikhla (1430-1434).

Setelah dibuang ke Bengal, Narameikhla lalu menguasai kembali berkat bantuan sultan bengal.

Seiring dengan berkuasanya Narameikhla, masuk pula penduduk muslim dari bengal ke wilayah Arakan, Rakhine.

Dalam perkembanganya jumlah pemukim muslim dari Bengal terus bertambah.

Terutama ketika Ingris menguasai Rakhine. Karena kurangnya populasi Rakhine, Ingris memasukan banyak orang Bengali ke Rakhine untuk bekerja sebagai petani.

Pada tahun 1785, kerajaan Burma (Myanmar) menginvasi wilayah Rakhine sehingga berhasil dikuasai namun tidak mengakui keberadaan Etnis Rohingya.

Ketika Inggris melakukan sensus penduduk pada 1911, pemukiman muslim di Arakan sudah berjumlah 58 ribu orang.

Jumlah itu terus bertambah dari tahun ke tahun, penduduk lokal yang mayoritas merupakan penganut Budha merasa khawatir.

Sehingga timbul lah konflik.

Terdapat beberapa eskalasi konflik di Myanmar terhadap etnis Rohingya, antara lain: pada tahun 1942 pemerintah Myanmar mempropakasi penganut Budha di Arakan hingga terjadi kerusuhan besar yang menyebabkan 100.000 Etnis Rohingya terbunuh dan ratusan ribu lainnya melarikan diri ke bengal Timur.

Pada tahun 1949 kerusahaan yang dicetuskan Burma Territorial Forces (BTF) terjadi lagi dengan menewaskan ribuan muslim serta ratusan rumah dan masjid dimusnahkan.

Tahun 1962 terjadi kudeta di Myanmar oleh Jenderal Ne Win terhadap Presiden Aung San, disusul dengan adanya operasi militer terhadap etnis Rohingya yang dikenal dengan operasi King dragon (Naga Min) pada tahun 1978 yang mengakibatkan 200.000 Etnis Rohingya mengungsi ke Bangladesh dan negara-negara tetangga.

Pada tahun 2014 pemerintah Myanmar melarang penggunaan istilah Rohingya dan mendaftarkan orang-orang Rohingya sebagai orang bengali dalam sensus penduduk saat itu.

Pada bulan Maret 2015 pemerintah Myamar mencabut kartu identitas penduduk bagi orang-orang Rohingya yang menyebakan mereka kehilangan kewarganegaraan dan tidak mendapatkan hak-hak politik.

Akibatnya etnis Rohingya mencari perlidungan ke kamp pengusian di India dan Pakistan, sehingga karena atas dasar itulah Etnis Rohingya ditolak warga negaranya untuk kembali lagi ke Burma atau Myanmar, serta terjadi penolakan terhadap Etnis tersebut.

Namun berbeda dengan negara lain, sejak tahun 2009, Provinsi Aceh selalu menjadi tempat terdamparnya para manusia perahu tersebut, tujuan utama mereka adalah ingin menuju ke Negara Malaysia.

Namun karena susahnya untuk masuk ke Negara Jiran itu, sehingga mereka terkantung-kantung di perairan Selat Malaka, sehingga terdampar ke perairan Provinsi Aceh.

Secara geografis, Aceh memang berbatasan dengan Selat Malaka.

Hal itu dibenarkan oleh salah seorang Etnis Rohingya saat dijumpai SerambiWiKI di Gedung BLK Lhokseumawe, yang bernama Ziabur Rahman (33) Rohingya gelombang pertaman, Kamis (24/9/2020) dirinya tidak bisa membayangkan bagaimana kekejaman dan peristiwa pembantaian di negaranya.

Pembantaian tersebut berada di banyak-banyak desa, sehingga membuat sebagian besar para Etnis Rohingya meninggalkan tanah kelahirannya, untuk menyelamatkan diri agar tidak dibantai.

“Saya tidak sanggup membayangkan tentang pembantaian disana dan saya pusing untuk menjelaskannya, karena sangat mengerikan sekali. Banyak sekali desa-desa yang dibakar, pokoknya sangat mengerikan sekali,” ujar Ziabur.

 Dirinya sempat terombang-ambing selama empat bulan di kapal, ketika belum terdampar di perairan Aceh. Sehingga segala kebutuhan logistik sangat terbatas, kondisi kapalnya juga sangat tidak memadai.

Ketika dalam perjalanan tersebut, dirinya bersama para mmigran Rohingya yang lainnya terpaksa harus minum air laut, karena ketersediaan air minum sudah habis sama sekali. Bahkan sebagian ada yang meninggal dunia.

“Karena sering minum air laut, maka sebagian teman-teman kami mengalami sesak nafas karena terlalu banyak minum air asin, selama berada di kapal memang semua logistik menjadi terbatas,” terang Ziabur Rahman.

 Sementara itu, Ketua PMI Kota Lhokseumawe Junaidi Yahya mengatakan, Ketua PMI Kota Lhokseumawe Junaidi Yahya mengatakan, mengatakan berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) terhadap perempuan Rohingya, yang terdampar di penampungan India, Malaysia dan Indonesia.

Maka menunjukkan bahwa, ada sekitar 60 persen perempuan tersebut terpaksa menikah dalam usia dini sebelum usia 16 dan 17 tahun.

Sehingga pengantin anak-anak itu, disinyalir sebagai korban perdangangan manusia.

Tambahnya, terhitung sejak bulan Agustus tahun 2017, maka lebih dari 740.000 warga Rohingya telah meninggalkan rumah mereka di Negara Bagian Rakhine, Myanmar, karena mengalami kekerasan secara brutal.

 “Pengungsi Rohingya memiliki hak asasi yang tidak dapat diganggu gugat, namun Pemerintah tidak diperbolehkan melakukan pemulangan kecuali hal tersebut berlangsung aman, sukarela,” ucapnya.

 Sambungnya, kita dari PMI yang terus berupaya untuk mendampingi dan berusaha untuk mendapatkan hak-hak mereka sebagai pengungsi dapat terpenuhi. (SerambiWIKI/Zaki Mubarak)

Data Kampus

STIKES MUHAMMADIYAH LHOKSEUMAWE

Akreditasi : B

Jl. Darussalam No.47, Hagu Selatan
KEC. Banda Sakti
KOTA. Lhokseumawe
PROV. Aceh
KODE POS 24351